Do You Believe in Mother?

Saya tidak biasanya memposting ulang tulisan orang lain. Tapi tulisan ini terlalu indah untuk diabaikan. 🙂

***

In a mother’s womb were two babies.

One asked the other: “Do you believe in life after delivery?”

The other replied, “Why, of course. There has to be something after delivery. Maybe we are here to prepare ourselves for what we will be later.”

“Nonsense” said the first. “There is no life after delivery. What kind of life would that be?”

The second said, “I don’t know, but there will be more light than here. Maybe we will walk with our legs and eat from our mouths. Maybe we will have other senses that we can’t understand now.”

The first replied, “That is absurd. Walking is impossible. And eating with our mouths? Ridiculous! The umbilical cord supplies nutrition and everything we need. But the umbilical cord is so short. Life after delivery is to be logically excluded.”

The second insisted, “Well I think there is something and maybe it’s different than it is here. Maybe we won’t need this physical cord anymore.”

The first replied, “Nonsense. And moreover if there is life, then why has no one has ever come back from there? Delivery is the end of life, and in the after-delivery there is nothing but darkness and silence and oblivion. It takes us nowhere.”

“Well, I don’t know,” said the second, “but certainly we will meet Mother and she will take care of us.”

The first replied “Mother? You actually believe in Mother? That’s laughable. If Mother exists then where is She now?”

The second said, “She is all around us. We are surrounded by her. We are of Her. It is in Her that we live. Without Her this world would not and could not exist.”

Said the first: “Well I don’t see Her, so it is only logical that She doesn’t exist.”

To which the second replied, “Sometimes, when you’re in silence and you focus and you really listen, you can perceive Her presence, and you can hear Her loving voice, calling down from above.”

By: Útmutató a Léleknek

***

What a beautiful parable!

Ya… terlepas dari tuduhan plagiarisme dari Pablo Molinero yang mengklaim telah menulis cerita hampir serupa berjudul “Boys and Girls”. Tapi, siapa peduli? Saya penganut copycentre, Mas Pablo. 😛

***

Saya akan tindak lanjuti tulisan ini dalam postingan selanjutnya.

Belajar Setia dari Mrs. Han

Saya pernah jadi sinden. Doeloe sekali. Sekitar (((8 tahun yang lalu))) waktu masih oenyoe. Saat itu, saya nekat ikut unit karawitan dan tidak bisa main gamelan. Baik peking maupun demung, saya cuma mengacaukan. Apalagi gendang, cuma bisa godain pemainnya sambil priwitan. Bingung deh, menari juga tidak mungkin. Jadilah para senior yang entah mendapat wangsit dari mana, mendaulat seorang bocah Balikpapan yang tidak paham arti “Angliak numpak prau layar” ini untuk digiring menjadi sinden. Heu, no problemo. Saya siap menerima tantangan.

Dan benar saja, karir saya tidak panjang. Baru dua kali saya tampil dalam pagelaran sebelum mampu jadi titisan Waljinah. Itupun tidak benar-benar “nampil”. Kali pertama hanya sebuah acara inisiasi satu angkatan, jadi yang nonton cuma segelintir orang yang kebetulan lewat. Kali kedua memang pentas sungguhan, tapi saya nyempil di pinggiran panggung yang gelap, di sebelah pemain gong yang notabene adalah penulis junjungan kalian, Kurniawan Gunadi, yang juga ketutupan deretan gong sebesar ban traktor.

Continue reading

Anak-Anak yang Menolak Pergi Sekolah

Kalau bukan karena takut pada tatapan tajam dan hardikan Bapak saya, bisa dipastikan saya tidak akan mau pergi sekolah. SD terbaik satu kecamatan yang saya masuki itu adalah SD yang penuh angkara murka. Tidak, saya tidak bicara perkara mistar yang dilayangkan ke betis dengan entengnya, itu biasa. Saya patuh terhadap nasihat “Hormati gurumu”, tapi tidak untuk “Sayangi teman”. Pasalnya, tahun 2000 ketika saya kelas 2 SD, teman-teman saya di sana sungguh… ah sudahlah.

Continue reading

Despacito adalah Sebuah Kerinduan

Kita berada pada titik waktu yang mengharuskan anak-anak dipaksa bijaksana. Terutama, ketika dunia virtual telah menyita waktu dan perhatian orangtua mereka. Buibu tengah berjuang di medan Mom Wars pada semua aplikasi media sosial, sementara Bapake mentengin orang main bola glundungan di televisi tapi malas menerima ajakan futsal. Dan, agar semua tenang, aman, dan damai sejahtera, anaknya dicekoki tablet Aprazolam untuk nonton Youtube. Bebas. Bablas.

Apa yang anak-anak ini dapatkan? Tentu saja hal-hal viral yang mewabah bagai demam berdarah. Salah satunya, Despacito yang sudah di-cover dalam berbagai versi. Mulai dari dangdutan ala Via Vallen sampai dibuat syariah dengan mengganti kata “Despacito” jadi “Astaghfirullah”.

Continue reading

Ngerandom Soal Hari Patah Hati Dunia Akhirat

Sudah puas dengan hari patah hati yang marak akhir-akhir ini? Harpatinas Nasional oleh Raisa-Hamish. Harpatinas Internasional oleh pasangan Song. Dan yang ingin saya soroti, Harpatinas dunia akhirat oleh Muzammil-Sonia. Bagi saya yang rada jarang mantengin linimasa dan sudah telat untuk ikutan patah hati, ini hiburan banget sih. 😂

Kini, Alhamdulillah Muzammil telah bebas dari tatapan ibu-ibu yang sepenuh hati ingin menjadikannya menantu. Beliau bebas dari akhwat-akhwat yang diam-diam menyimpan rasa. Beliau juga lebih terjaga dari segala fitnah dunia, dan insyaa Allah lebih paripurna sebagai lelaki sholeh yang bijaksana.

Semoga tidak ada akhwat pantang menyerah yang mendamba jadi istri kedua.

Continue reading

Bertapa di Era Bicara

Saya terobsesi pada keheningan dan ketenangan. Menikmati kebebasan berpikir ketika masa kebebasan berpendapat sudah bonyok dihajar bigot-bigot penggemar pertikaian. Mengherankan sekali, mereka tidak bisa membedakan antara diskusi dan perdebatan. Belum lagi, sifat tidak terus terang justru malah menyebalkan. Menyindir, no mention, tapi ngedumel bahkan melontarkan sarkas ke orang lain secara tidak elegan dan jauh dari relevan.

(((Woooi, straightforward saja kali, biar jelas padang jingrang apa yang ente permasalahin.))) *ngomong pake speaker*

Continue reading

#Ramadhan 9.0 – Dorman

Panggung monolog ini tutup tirai dulu. Penampilnya sedang rusuh dengan tenggat waktu yang melibatkan hantu-hantu. Belum lagi, ada raksasa megalomania yang merasa terancam dengan kehadirannya di seberang sana.

Sejenak, ia ingin merumahkan hatinya. Meluluhlantakkan dunia bayangan yang meminta terlalu banyak perhatian. Sementara kenyataan akan lebih sedih jika ditinggalkan.

Ah, mungkin dia saja yang terlalu berlebih dalam memikirkan. Padahal, lebih menyenangkan untuk menyandarkan punggungnya yang tak lagi muda pada batang pohon cemara. Berhenti meneriaki belukar untuk menjadi mawar. Berhenti mendorong cangkang-cangkang keong. Berhenti melolong, mengeong, menggongong, dan semua yang cuma omong kosong.

Lagipula, kaki-kakinya tak bisa diam untuk menunggu.

Langkahnya tidak terhenti.

Dia tidak menunggu,

atau sekadar menanti.

***

#RamadhanSeries 1438 hanya sampai di sini. Tan Panama, masih melangkah sampai nanti. Selamat lahir baru bagi yang merayakan Idul Fitri. 🙂

Sampai jumpa di bulan Juli.