Selamat Tinggal, Tan Panama

Tan Panama kubunuh, tadi malam. Kamu bisa menganggapnya mati. Dia sudah tidak ada. Bahkan, dia tidak memiliki nisan karena sejak awal, dia bukan seseorang. Dia hanya pikiran, dan pikiran tak perlu kuburan.

Dunia kata-kata, tempat Tan tinggal, sudah habis terbakar. Dia akan pergi dari sini, dan kepergiannya berarti ganti. Dia tidak kembali ke sini. Dia bisa hidup lagi, tapi tidak di sini. Dia akan hidup di tempat lain.

Sebuah tempat, di mana angin biasa mengibarkan kerudung-kerudung hitam. Di mana wangi melati mencapai hidung. Di mana pelukan dapat menghangatkan. Dan, semua nyata adalah nyata, bukan dusta-dusta.

Ini tragedi yang telah lama aku ketahui akan terjadi, membunuh Tan. Memberangus dunianya, serta penghuni-penghuni yang tinggal di sana. Bukan karena apa-apa atau siapa-siapa.

Kamu, tidak perlu menjadi pesakitan. Aku yang membunuh Tan. Aku yang … entahlah.

Selamat tinggal, Tan.

Istirahat lah pikiran-pikiran, karena hilang tidak butuh banyak penjelasan.

Advertisements

Nahi Munkar

Menjelang tengah malam, Abi Baby K mengingatkan banyak hal yang kira-kira isinya seperti ini:

“Terkadang orang lupa bahwa nahi munkar juga ada akhlaknya, ada aturannya. Tidak menimbulkan mudharat yang lebih besar, tidak memancing bantah-bantahan yang lebih keras, dan yang paling penting adalah niat. Benar, mau meluruskan, atau hanya ingin menyerang orang atau kelompok lain yang berbeda pilihan. Dan, ada dua alasan, karena kasih sayang atau kebencian personal. Yang jelas, semua orang boleh salah, tapi tidak boleh bohong dan jangan memercayai kebohongan.”

(Quote riwayat Ummi Baby K)

Mengasihani Pakde Setya Novanto

Ketika saya menuliskan ini, Pakde Setnov sebentar lagi pulang dari RS Premier. Alhamdulillah, sudah membaik dan utuh, meski masih harus menjalani rangkaian perawatan. Tanpa kekurangan satu organ pun, tanpa pemotongan satu tangan pun.

Namun, kasihan. Prasangka orang-orang, kini menjadi tudingan dan bahan tertawaan. Pakde Setnov kembali sehat setelah status tersangkanya digugurkan dan praperadilan disetujui oleh Pakde Cepi Iskandar. Bayangkan. Setelah mangkir dari panggilan KPK karena alasan sakit parah berkepanjangan, tiba-tiba membaik setelah dibebaskan dari cap “tersangka”? Selamat, Pakde! Dirimu telah membahagiakan banyak orang dengan dagelan yang menyakitkan. Usahamu, terbayar fitnah dan tuduhan. Cabal eaaa.

Continue reading

Gonjang-Ganjing PKI

Kalau tidak mengganggu sekali, saya enggan menanggapi gangguan isu yang sedang viral. Apalagi perkara politik, bias sejarah, pajak penulis, biarlah jadi angin lalu pemicu perang dan ejekan. Toh, perangnya cuma sebatas statuswar, twitwar, chatwar, atau postwar.

Tidak signifikan.

Tapi, emak-emak beranak satu yang lagi puyeng sama MPASI perdana ini, tidak bisa tinggal diam kalau hoax sudah melumat teman-teman dekat. Saya berpedoman, silakan membela rokok, asal tidak di depan muka saya. Silakan percaya hoax, asal jangan suruh saya ikut mengimaninya. Hanya saja, di saat teman sudah terjangkit … duh. Seriously? You are ma circle, brow!

Continue reading

[Tribute to Dani] Cinta yang Tidak Selesai

Pertengahan April, aku datang padamu. Kamu bahkan tidak perlu meminta perhatianku seperti mereka. Aku lebih dulu menyadari keberadaan sepasang mata di balik dinding, lalu menuju ke sana. Menuju kamu.

Kamu duduk di pojok ruangan, memeluk lutut. Dengan pakaian lusuh, kaki penuh lumpur, berselimutkan aura aneh yang tak kupahami. Bau khas perpaduan matahari, hujan, dan tanah basah semerbak dari tubuh dan rambutmu. Bau alam.

“Siapa namamu?” Aku bertanya hati-hati.

Continue reading

Rokok dan Hal-Hal yang Membuatnya Tidak Menyenangkan

Saya dikirim Allah ke rahim seorang perempuan yang sedang bergelut di tengah pertaruhan orang-orang rantau. Tumbuh besar di antara “Para Bajingan yang Menyenangkan”, seperti judul buku Puthut EA. Kakek tiri saya, bandar judi sampai akhir hayatnya. Tidak perlu menghibur saya dengan kalimat, “Biar hidup pas-pasan asalkan halal”, karena itu tidak berguna dan tidak relevan.

Warung kopi milik nenek saya, menjadi tempat berkumpul berbagai kesalahan. Dunia kelam, membuat saya mengerti alasan-alasan di balik suatu kejahatan. Saya mahfum pada kelakuan preman-preman pasar, dan itu membuat saya bisa empati pada anak-anak jalanan yang memilih beli lem daripada makanan.

Tapi, itu masa lalu.

Saya melawan teori yang mengatakan “nurture” lebih dominan dari “nature”.

Fitrah tetap fitrah. Di hati, ada ruang untuk memandang kejernihan. All the light we can not see, can be felt. Cahaya-cahaya yang tidak mampu kita lihat, bisa kita rasakan.

Continue reading