Selamat Tinggal, Tan Panama

Tan Panama kubunuh, tadi malam. Kamu bisa menganggapnya mati. Dia sudah tidak ada. Bahkan, dia tidak memiliki nisan karena sejak awal, dia bukan seseorang. Dia hanya pikiran, dan pikiran tak perlu kuburan.

Dunia kata-kata, tempat Tan tinggal, sudah habis terbakar. Dia akan pergi dari sini, dan kepergiannya berarti ganti. Dia tidak kembali ke sini. Dia bisa hidup lagi, tapi tidak di sini. Dia akan hidup di tempat lain.

Sebuah tempat, di mana angin biasa mengibarkan kerudung-kerudung hitam. Di mana wangi melati mencapai hidung. Di mana pelukan dapat menghangatkan. Dan, semua nyata adalah nyata, bukan dusta-dusta.

Ini tragedi yang telah lama aku ketahui akan terjadi, membunuh Tan. Memberangus dunianya, serta penghuni-penghuni yang tinggal di sana. Bukan karena apa-apa atau siapa-siapa.

Kamu, tidak perlu menjadi pesakitan. Aku yang membunuh Tan. Aku yang … entahlah.

Selamat tinggal, Tan.

Istirahat lah pikiran-pikiran, karena hilang tidak butuh banyak penjelasan.

Advertisements

Tentang Adek Wawa yang Bersemangat Sekali

Buatlah seorang pujangga jatuh cinta, maka kau akan abadi dalam karyanya.

***

Kasihan orang-orang yang baru kenal saya di bulan kedua setelah saya melahirkan. Woles combo yang dihasilkan oleh golongan darah B dan INFP, tak ada artinya ketika digempur gelombang hormon. Dan itu, kelemahan perempuan yang harus diakui meski pahit bagi kaum kami.

Adek Wawa, pemilik blog Dear Langit memang beruntung. Dia mengenal saya setelah Baby K sudah jinak empat bulan. Luka jahitan tak lagi terasa, Baby K pintar tidur malam, dan saya bisa kembali jadi banci emot bersenang-senang.

Beberapa yang lain, salah satunya Adek Tia yang manis sekali, juga menyadari perubahan ini.

Continue reading

#Ramadhan 9.0 – Dorman

Panggung monolog ini tutup tirai dulu. Penampilnya sedang rusuh dengan tenggat waktu yang melibatkan hantu-hantu. Belum lagi, ada raksasa megalomania yang merasa terancam dengan kehadirannya di seberang sana.

Sejenak, ia ingin merumahkan hatinya. Meluluhlantakkan dunia bayangan yang meminta terlalu banyak perhatian. Sementara kenyataan akan lebih sedih jika ditinggalkan.

Ah, mungkin dia saja yang terlalu berlebih dalam memikirkan. Padahal, lebih menyenangkan untuk menyandarkan punggungnya yang tak lagi muda pada batang pohon cemara. Berhenti meneriaki belukar untuk menjadi mawar. Berhenti mendorong cangkang-cangkang keong. Berhenti melolong, mengeong, menggongong, dan semua yang cuma omong kosong.

Lagipula, kaki-kakinya tak bisa diam untuk menunggu.

Langkahnya tidak terhenti.

Dia tidak menunggu,

atau sekadar menanti.

***

#RamadhanSeries 1438 hanya sampai di sini. Tan Panama, masih melangkah sampai nanti. Selamat lahir baru bagi yang merayakan Idul Fitri. 🙂

Sampai jumpa di bulan Juli.

#Ramadhan 6.0 – Sebelum Tiba di Rumah

Mobil-mobil bercengkrama menggunakan bunyi klakson dan karbon monoksida. Di dalamnya, orang-orang menatap nanar lampu lalu-lintas yang belum berganti warna. Mereka bergegas, tapi menghindar untuk tiba lebih awal. Pikiran mereka terpenjara pada akhir pekan dan perihal lain yang belum waktunya.

Sementara di jok belakang, anak-anak berseragam kesulitan mengeja kebahagiaan. Nasib mereka ditentukan oleh kenaikan kelas dan hasil ujian nasional. Mereka membaca banyak hal, tapi tidak mempelajari apa-apa. Sinapsis otak mereka kebanjiran berita dari televisi dan linimasa. Tinggal menunggu waktu, hingga akhirnya terperangkap dalam tubuh manusia dewasa yang merindukan masa kecilnya.

Kelak, akan banyak yang berhenti sebelum sampai. Lari di tempat dan memuja kata andai. Membeli barang-barang mahal tapi tidak begitu berharga. Menjadi orangtua yang mencintai pekerjaan seperti anak-anak mereka mencintai permainan di layar telepon pintar.

Duduk bersama, dan tidak banyak bicara. Meja makan mereka kesepian, ditemani piring-piring dan gelas-gelas bersih. Akhir pekan datang, waktu bagi pusat perbelanjaan. Mengosongkan sofa ruang keluarga dan memadati jalan-jalan.

Jenis lain, sedikit berbeda. Ada para pengembara. Kantor mereka pantai, gunung, pohon-pohon tinggi, dan apa saja yang tampak bagus di dalam foto.

Berlomba-lomba menceritakan tempat-tempat indah yang jarang terjamah. Menjauhi keramaian orang untuk menjadi pusat perhatian. Mengagumi alam, tapi sibuk mengurusi baterai dan mencari-cari aliran listrik. Tidak bisa hidup tanpa koneksi internet dan merutuki kartu memori yang sudah penuh. Mereka terus berjalan, tapi melupakan tujuan.

***

Mau kemana?

Semua orang selalu ingin lekas tiba di rumah, tapi menjauhi jalan menuju pulang.

***

Prosa di atas adalah sekerat yang saya ambil dari rangkaian cerita Tenggelam di Langit. Fragmen ke lima, Meng(alam)i – Berkas Satu.

***

Siapa yang sudah baca bukunya? Kamu?

Terima kasih banyak ya. 🙂