#Ramadhan 9.0 – Dorman

Panggung monolog ini tutup tirai dulu. Penampilnya sedang rusuh dengan tenggat waktu yang melibatkan hantu-hantu. Belum lagi, ada raksasa megalomania yang merasa terancam dengan kehadirannya di seberang sana.

Sejenak, ia ingin merumahkan hatinya. Meluluhlantakkan dunia bayangan yang meminta terlalu banyak perhatian. Sementara kenyataan akan lebih sedih jika ditinggalkan.

Ah, mungkin dia saja yang terlalu berlebih dalam memikirkan. Padahal, lebih menyenangkan untuk menyandarkan punggungnya yang tak lagi muda pada batang pohon cemara. Berhenti meneriaki belukar untuk menjadi mawar. Berhenti mendorong cangkang-cangkang keong. Berhenti melolong, mengeong, menggongong, dan semua yang cuma omong kosong.

Lagipula, kaki-kakinya tak bisa diam untuk menunggu.

Langkahnya tidak terhenti.

Dia tidak menunggu,

atau sekadar menanti.

***

#RamadhanSeries 1438 hanya sampai di sini. Tan Panama, masih melangkah sampai nanti. Selamat lahir baru bagi yang merayakan Idul Fitri. ­čÖé

Sampai jumpa di bulan Juli.

#Ramadhan 8.0 – Elegi Hamba yang Nyaris Mati

Ia berkata padaku suatu ketika, ÔÇťAku ingin mati sebelum mati.ÔÇŁ

Mandala membunuh Mandala dan menghidupkan jiwa lain dalam dirinya. Dua ekor burung yang saling terikat tidak akan bisa terbang bersamaan, katanya. Harus ada satu yang rela mati demi kebebasan yang lainnya. Lantas, Mandala memilih lereng-lereng pegunungan sebagai pusara raksasa yang menjadikan dualitas itu sirna.

***

Bagi pengagum jejak-jejak Rumi, sepenggal fragmen sepuluh Tenggelam di Langit akan melekat begitu akrab. Dengan khidmat, saya mengikir seberkas untaian beliau untuk diselipkan tanpa banyak kiasan. Tidak perlu. Bait tersebut sudah rumit dan terlampau dalam untuk membuat kita terbenam dalam renungan.

Memang, saya bukan orang yang tepat untuk bicara perihal kesatuan wujud. Kendati pernah terobsesi mempejalarinya, topik itu cukup berbahaya untuk dicerna begitu saja. Saya percaya, internet bukan wahana yang baik untuk mengenali substansi segala substansi. Sebundel kitab lusuh dari sudut pondokan lebih mampu menjanjikan pemahaman.

Di sini, kita cukup bermain di permukaan.

***

Tahun 2015 merupakan satu dari tiga garis waktu yang begitu riuh bagi saya. Tanggung jawab besar di kantor, kisah cinta yang seperti kembang api, hingga nafas yang tersengal karena hampir kehilangan nyawa. Secara simultan, ketiganya mengubah saya menjadi sosok yang tak lagi sama.

Continue reading

#Ramadhan 6.0 – Sebelum Tiba di Rumah

Mobil-mobil bercengkrama menggunakan bunyi klakson dan karbon monoksida. Di dalamnya, orang-orang menatap nanar lampu lalu-lintas yang belum berganti warna. Mereka bergegas, tapi menghindar untuk tiba lebih awal. Pikiran mereka terpenjara pada akhir pekan dan perihal lain yang belum waktunya.

Sementara di jok belakang, anak-anak berseragam kesulitan mengeja kebahagiaan. Nasib mereka ditentukan oleh kenaikan kelas dan hasil ujian nasional. Mereka membaca banyak hal, tapi tidak mempelajari apa-apa. Sinapsis otak mereka kebanjiran berita dari televisi dan linimasa. Tinggal menunggu waktu, hingga akhirnya terperangkap dalam tubuh manusia dewasa yang merindukan masa kecilnya.

Kelak, akan banyak yang berhenti sebelum sampai. Lari di tempat dan memuja kata andai. Membeli barang-barang mahal tapi tidak begitu berharga. Menjadi orangtua yang mencintai pekerjaan seperti anak-anak mereka mencintai permainan di layar telepon pintar.

Duduk bersama, dan tidak banyak bicara. Meja makan mereka kesepian, ditemani piring-piring dan gelas-gelas bersih. Akhir pekan datang, waktu bagi pusat perbelanjaan. Mengosongkan sofa ruang keluarga dan memadati jalan-jalan.

Jenis lain, sedikit berbeda. Ada para pengembara. Kantor mereka pantai, gunung, pohon-pohon tinggi, dan apa saja yang tampak bagus di dalam foto.

Berlomba-lomba menceritakan tempat-tempat indah yang jarang terjamah. Menjauhi keramaian orang untuk menjadi pusat perhatian. Mengagumi alam, tapi sibuk mengurusi baterai dan mencari-cari aliran listrik. Tidak bisa hidup tanpa koneksi internet dan merutuki kartu memori yang sudah penuh. Mereka terus berjalan, tapi melupakan tujuan.

***

Mau kemana?

Semua orang selalu ingin lekas tiba di rumah, tapi menjauhi jalan menuju pulang.

***

Prosa di atas adalah sekerat yang saya ambil dari rangkaian cerita Tenggelam di Langit. Fragmen ke lima, Meng(alam)i – Berkas Satu.

***

Siapa yang sudah baca bukunya? Kamu?

Terima kasih banyak ya. ­čÖé

#Ramadhan 3.0 – Menjadi Non-Kafir yang Baik dan Benar

Semenjak ada dirimu kisruh pilkada, banyak yang menggunakan kata kafir dengan segala macam tendensi. Mulai dari yang wajar dalam lingkungan aktivis dakwah, sampai yang tidak wajar dalam pergaulan anak SD. Meresahkan, tentu saja. Terutama jika diucapkan dengan nada kebencian, apalagi ditambah nyinyir. Lebih tragis, kalau yang mengucapkan dan mendengar sama-sama tidak tahu artinya. Terciptalah perasaan tidak nyaman yang terus membayang seperti kenangan.

Oleh sebab itu…

Demi perdamaian dunia dan keselamatan kita di dunia lainnya, mari membahas asal kata dan pengertian “kafir” terlebih dahulu. Bismillah┬áya, semoga tulisan ini bisa sedikit mengurai benang kusut dan tidak membuatnya semakin ruwet.

Continue reading